Aku sudah menyapanya siang ini.
"Hai," hanya itu.
Dia pun balik menanyakan kabarku.
Baiklah, kami saling menyapa.
Namun, mengapa terasa pedih?
Aneh, bukan?
Harusnya aku senang, lega, atau bahagia.
Mengapa malah ingin berbalik dan menghindar?
Percakapan pendek itu memang terjadi.
Namun, tiada kehangatan terasa, malah gamang.
Sudahlah, aku sudah menyapanya.
Itu sudah cukup untuk hari ini.
Sekarang aku ingin pulang, kembali ke rumah.
17:40
25112008
Selasa, 25 November 2008
Senin, 24 November 2008
24 Nov '08
Kau tidak datang malam tadi
Mengapa malah dia yang menemani
Tidak, aku tidak mengundangnya
Aku menginginkanmu, bayanganmu
Sungguh anganku kembali padamu
Senyummu ingin kulihat sekali lagi
Tak ada gambarmu dalam kalbuku
Kehangatan pun tak mampu kuraih
Kuhanya bisa membalikkan kenangan
Meski tiada lagi kekuatan
Mencoba mencari serpihan wajahmu
Dalam tiap suara yang masih kudengar
Mengapa malah dia yang menemani
Tidak, aku tidak mengundangnya
Aku menginginkanmu, bayanganmu
Sungguh anganku kembali padamu
Senyummu ingin kulihat sekali lagi
Tak ada gambarmu dalam kalbuku
Kehangatan pun tak mampu kuraih
Kuhanya bisa membalikkan kenangan
Meski tiada lagi kekuatan
Mencoba mencari serpihan wajahmu
Dalam tiap suara yang masih kudengar
Rabu, 19 November 2008
Izinkan Aku Memakimu
Hai kau yg bernama!
Berani sekali kau pergi begitu saja
Meninggalkan kebunmu yg mulai tumbuh
Tiadakah setitik asa tertinggal?
Kau!
Ya, kau yg sedang termangu dalam hujan.
Tak sudi lagikah kau menyiangi rumput itu?
Keliarannya mulai mengoyak tunas yg kautanam
Hei, kau yg bernama!
Tengoklah sebentar ...
Di sini kami bersandar, tidak meninggalkanmu
Masih ingin menumbuhkan tunas-tunas itu
Kau yg bernama!
Ternyata aku tak sanggup memakimu
Kau yg kan kembali melangkah
Menapaki cita yg pernah tersirat
16:30
20112008
Berani sekali kau pergi begitu saja
Meninggalkan kebunmu yg mulai tumbuh
Tiadakah setitik asa tertinggal?
Kau!
Ya, kau yg sedang termangu dalam hujan.
Tak sudi lagikah kau menyiangi rumput itu?
Keliarannya mulai mengoyak tunas yg kautanam
Hei, kau yg bernama!
Tengoklah sebentar ...
Di sini kami bersandar, tidak meninggalkanmu
Masih ingin menumbuhkan tunas-tunas itu
Kau yg bernama!
Ternyata aku tak sanggup memakimu
Kau yg kan kembali melangkah
Menapaki cita yg pernah tersirat
16:30
20112008
Selasa, 18 November 2008
Inginku
Aku ingin pulang, sekarang
Entah kenapa
Tiba-tiba saja aku ingin pulang
Tanpa alasan
Aku benar-benar ingin pulang
Adakah yang bisa membawaku pergi?
Pergi dari sini secepatnya
Pulang ke tempatku merasa nyaman
Aku hanya ingin pulang
Pulang ke peraduan senyumnya
Memeluk hangat jiwanya
Aku ingin cepat pulang
12:40
19112008
Entah kenapa
Tiba-tiba saja aku ingin pulang
Tanpa alasan
Aku benar-benar ingin pulang
Adakah yang bisa membawaku pergi?
Pergi dari sini secepatnya
Pulang ke tempatku merasa nyaman
Aku hanya ingin pulang
Pulang ke peraduan senyumnya
Memeluk hangat jiwanya
Aku ingin cepat pulang
12:40
19112008
Meletup Lagi ...
Aku meletup lagi, tadi siang.
Sungguh tidak enak, sungguh tidak nyaman.
Aku juga tidak tahu bagaimana awalnya.
Aku hanya ingat rasa marah itu.
Ya, masih ingat obrolan yg biasa saja.
Ada jeda, cukup lama kurasa.
Setelah itu, ada nada merajuk.
Ya, aku tak salah mengenalinya.
Oke, baiklah jika ingin merajuk.
Silakan saja, tak masalah.
Namun, tunggu dulu.
Mengapa ada semburan panas di dalam sana?
Aku sudah ingin mengabaikannya.
Aku mulai tak acuh, tapi dia mulai meradang.
Tanpa kusadari, aku pun meracau.
Tanpa terkendali mungkin.
Ada luka yg tak kusadari membuka.
Namun, mengapa aku malah melukainya?
Sadarkah aku akan apa yang terjadi?
Aku meletup ... lagi.
Tidak, mengapa harus sekarang?
Tunggu, bukankah aku hanya meracau?
Dia sudah lama terluka, bukan karenaku.
Itu yang kutahu.
Namun, aku terbakar sendiri di sini.
Merutuki rajukan yang kutahu bisa kuabaikan.
Aku melakukannya tanpa kendali.
Ya ya, aku meletup kembali.
18:50
18112008
Sungguh tidak enak, sungguh tidak nyaman.
Aku juga tidak tahu bagaimana awalnya.
Aku hanya ingat rasa marah itu.
Ya, masih ingat obrolan yg biasa saja.
Ada jeda, cukup lama kurasa.
Setelah itu, ada nada merajuk.
Ya, aku tak salah mengenalinya.
Oke, baiklah jika ingin merajuk.
Silakan saja, tak masalah.
Namun, tunggu dulu.
Mengapa ada semburan panas di dalam sana?
Aku sudah ingin mengabaikannya.
Aku mulai tak acuh, tapi dia mulai meradang.
Tanpa kusadari, aku pun meracau.
Tanpa terkendali mungkin.
Ada luka yg tak kusadari membuka.
Namun, mengapa aku malah melukainya?
Sadarkah aku akan apa yang terjadi?
Aku meletup ... lagi.
Tidak, mengapa harus sekarang?
Tunggu, bukankah aku hanya meracau?
Dia sudah lama terluka, bukan karenaku.
Itu yang kutahu.
Namun, aku terbakar sendiri di sini.
Merutuki rajukan yang kutahu bisa kuabaikan.
Aku melakukannya tanpa kendali.
Ya ya, aku meletup kembali.
18:50
18112008
Kamis, 13 November 2008
Mencoba Bertahan
Kaget? Jelas iya. Siapa yg tidak terkejut jika ada teman yg akan mendahului untuk berhenti di tengah perjalanan. Ya, meskipun aku tidak begitu paham alasannya, aku mencoba tidak bertanya. Bagiku, itu adalah hak pribadi masing-masing. Toh, rasa penasaran tetap ada.
Aku sudah bimbang sebelumnya, aku sempat ingin berhenti di persimpangan sebelumnya. Saat aku masih berpikir sambil berjalan, ternyata ada yg mendahuluiku. Ya sudahlah, harus diterima.
Aku sempat berbisik kepada kawan seperjalanan tentang niatku itu, tapi dengan keras dia memintaku bertahan. Ya, perjalanan untukku belum selesai, bekal yg kubawa masih banyak.
Hmm, aku jadi termangu sekali lagi ... masih sambil berjalan. Mungkin dia bermaksud memberiku semangat. Aku kembali melihat kerlip mercusuar di kejauhan. Kerlip yg sempat terhalang mendung. Biarkan hujan turun, tidak apa-apa. Biar saja berjalan di tengah badai, tetap harus dicoba.
Yup, pelan tidak mengapa .... Aku mencoba kembali menyemangati diri dalam perjalanan yg belum tampak akan usai ... dengan sedikit asa.
18:00
13112008
Dulu dan Sekarang
Dulu ...
Sedikit kejengkelan akan membuatku ingin berhenti.
Namun saat ini ...
Kejengkelan kecil seakan tak sebanding dengan rengkuhanmu dalam sepi.
17:30
13112008
Sedikit kejengkelan akan membuatku ingin berhenti.
Namun saat ini ...
Kejengkelan kecil seakan tak sebanding dengan rengkuhanmu dalam sepi.
17:30
13112008
Langganan:
Postingan (Atom)