the song i sing ... blur with passion
the song u sing ... happy with bitterness
the song i sing is not the song u sing
but they are our own song
the song u sing resounding my song from my past
a song that almost vanishes from my life
i sing old but new song
i sing to renew my own life
the song i sing brings my soul
to rejoice life and compassion
my song singing your song without tears
just singing the song
Tampilkan postingan dengan label my life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my life. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 Agustus 2009
just a housewife
Harapan paling besar dan berarti? Hm, sedikit membuatku melayang ke masa lalu. Perubahan cita-cita dari guru, pengacara, hingga penulis novel terkenal menghiasi perjalananku. Namun, ada yang tak berubah sejak aku menyadari itu cita-citaku sebenarnya (izinkan aku menggunakan kata cita-cita). Aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Aku sadar kata ‘baik’ sangat relatif. Ada yang bilang itu terlalu muluk, tetapi ada juga yang bilang itu terlalu sederhana. Benarkah?
Bagiku itu cita-cita yang ingin kucapai, entah bagaimanapun hasilnya nanti. Aku ingin menjadi ibu yang bisa menopang keluarga, bukan dalam hal materi. Inginnya memberi tempat untuk pulang bagi setiap anggota keluargaku kelak, ya suami maupun anak-anak (jika Tuhan mengizinkan). Siang tadi sempat terpikir jika keluarga saja merasa tidak nyaman saat pulang ke rumah dan harus mencari tempat mengeluarkan uneg-uneg atau rasa lelah di luar, bukankah rumah (home) akan kehilangan artinya? Siapa lagi yang bisa memberi makna selain anggota keluarga itu sendiri? Dan menurutku, seorang ibu akan sangat berperan penting dalam hal ini. Bila ibu dapat memberikan kenyamanan bagi setiap anggota keluarga, mereka akan selalu pulang untuk berbagi apa pun.
Apakah ibu yang berperan ganda dengan berkarier tidak dapat memberikan kenyamanan yang sama? Mengapa aku tidak bercita-cita mencapai peran ganda yang berhasil? Aku tidak menganggap ibu yang berperan ganda seperti itu. Banyak contoh ibu yang membuktikan mereka berhasil dalam karier maupun keluarga. Namun, aku memang tidak terpanggil seperti itu. Aku ingin memberikan sepenuhnya waktuku bagi keluarga, semampuku. Aku ingin menikmati setiap detik berharga bersama anak-anakku kelak. Membentuk keluarga yang sungguh bahagia dan mensyukuri yang dimiliki, itu adalah harapanku dan semoga Tuhan mengabulkannya.
18 Agustus 2008
Bagiku itu cita-cita yang ingin kucapai, entah bagaimanapun hasilnya nanti. Aku ingin menjadi ibu yang bisa menopang keluarga, bukan dalam hal materi. Inginnya memberi tempat untuk pulang bagi setiap anggota keluargaku kelak, ya suami maupun anak-anak (jika Tuhan mengizinkan). Siang tadi sempat terpikir jika keluarga saja merasa tidak nyaman saat pulang ke rumah dan harus mencari tempat mengeluarkan uneg-uneg atau rasa lelah di luar, bukankah rumah (home) akan kehilangan artinya? Siapa lagi yang bisa memberi makna selain anggota keluarga itu sendiri? Dan menurutku, seorang ibu akan sangat berperan penting dalam hal ini. Bila ibu dapat memberikan kenyamanan bagi setiap anggota keluarga, mereka akan selalu pulang untuk berbagi apa pun.
Apakah ibu yang berperan ganda dengan berkarier tidak dapat memberikan kenyamanan yang sama? Mengapa aku tidak bercita-cita mencapai peran ganda yang berhasil? Aku tidak menganggap ibu yang berperan ganda seperti itu. Banyak contoh ibu yang membuktikan mereka berhasil dalam karier maupun keluarga. Namun, aku memang tidak terpanggil seperti itu. Aku ingin memberikan sepenuhnya waktuku bagi keluarga, semampuku. Aku ingin menikmati setiap detik berharga bersama anak-anakku kelak. Membentuk keluarga yang sungguh bahagia dan mensyukuri yang dimiliki, itu adalah harapanku dan semoga Tuhan mengabulkannya.
18 Agustus 2008
Sore Ini
Sore ini cukup mendung, Teman.
Apakah hujan akan turun kali ini?
Tolong tanyakan padanya, ya?
Aku ingin menitipkan pelangi.
Teman, mendung makin gelap saja.
Angin juga ikut menyambangi.
Adakah kau mengundangnya datang?
Aku sedang tidak ingin menemani.
Sore ini aku hanya ingin pulang.
Bukan untuk berkelung.
Hanya sekadar berbincang.
Bersama mendung.
(hampir setengah empat sore)
15 april 09
Apakah hujan akan turun kali ini?
Tolong tanyakan padanya, ya?
Aku ingin menitipkan pelangi.
Teman, mendung makin gelap saja.
Angin juga ikut menyambangi.
Adakah kau mengundangnya datang?
Aku sedang tidak ingin menemani.
Sore ini aku hanya ingin pulang.
Bukan untuk berkelung.
Hanya sekadar berbincang.
Bersama mendung.
(hampir setengah empat sore)
15 april 09
MEREKA (TERNYATA) JUGA MANUSIA
Hore!!! Aku bersorak dalam hati karena untuk kesempatan kali ini tidak datang mepet atau terlambat. Aku dan adikku masih bisa memilih tempat duduk. Senangnya!
Yup, setelah 2 th absen, akhirnya aku bisa ikut tugas koor lagi. Acara tahunan di lingkungan yang menyenangkan bagiku karena bisa ikut bernyanyi (tanpa hrs hapal syair dan suara fals). ;p
Suasana hari ini mungkin tak semegah sebelum2nya karena berita duka yg bertubi datang beberapa waktu terakhir. Namun, acara ini tetap harus berjalan. Aku pun bersemangat untuk ikut membantu memeriahkannya (sok penting nih) dan berharap sema lancar. Sedikit ada harapan bertemu teman-teman lama. Tahun lalu mereka datang dan hanya menitipkan salam kepada ibuku. Duh, inginnya bertemu mereka kembali. Bagaimana kabar mereka sekarang, ya?
Pukul 5 sore acara dimulailah. Satu per satu lagu kami nyanyikan. Fiuh, sempat keseleo juga, tetapi untung tidak terlalu tampak. Hehehe, alibi yg bagus. Akhirnya inti acara tiba, dan kami yg datang pun mulai menghapal nama mereka. Beberapa pemuda baru bergabung. Mereka dipanggil satu per satu. Pelan aku membatin, semoga jumlah yg sama akan keluar dari sini. Amen.
Selintas ingatan datang, ingatan akan seorang sahabat di masa lalu. “Kami juga manusia, Cil. Manusia dengan keterbatasan. Jangan menghakimi seakan kami tidak bisa melakukan salah atau membuat keputusan tidak seperti yg kalian harapkan.”
Aku hanya tersenyum saat itu. Ya, aku juga paham. Saat kecil aku merasa keputusan hidup tidak seperti orang lain pastilah bukan hal mudah dan sekali memilih, mereka tidak akan mengubah keputusannya. Namun, saat ini aku sudah tak berpikir seperti itu lagi. Setelah banyak kulihat pemuda-pemuda seperti yg sekarang di depanku masuk dan keluar dengan jumlah lebih sedikit, aku mulai membuka pikiran. Aku teringat seorang pastur menyanyikan lirik lagu dari Seurius, “Rocker jg manusia”, tetapi diganti menjadi, “Romo jg manusia.” Hehehe, kurasa bisa jg diganti bermacam-macam sesuai kondisi.
Aku tersenyum mendengar adikku berbisik, “Wah, kita lihat saja berapa yg akan bertahan sampai tahun depan.” Memang ini bukan lomba dan tak akan ada yg kalah karena gugur di tengah jalan. Semua kembali ke pribadi masing-masing. Bukankah manusia memang diberi kesempatan memilih? Meski kadang keputusan itu tidak sama seperti yg diharapkan masyarakat atau bahkan keluarga mereka sendiri.
Tidak hanya satu-dua orang yg kukenal memutuskan jalan berbeda di tengah perjalanan. Ada yg benar-benar karena ingin berhenti, tetapi ada pula yg berhenti karena keadaan yg tidak diinginkan. Sedih memang, karena ada sebagian yg aku kenal dari awal perjalanan. Namun, jika itu memang harus terjadi, aku hanya bisa berharap semoga itu jalan terbaik bagi mereka.
Yap, acara berakhir juga. Lancar seperti yg kami semua harapkan. Mengucapkan selamat bagi mereka adalah hal yg wajib kulakukan (ya iyalah). Tak lupa yg memperbarui janji juga kuberi ucapan selamat. Mereka termasuk teman lama yg hampir kulupakan. Senangnya mereka masih berada di jalan ini (salah satu keegoisan diri ya?). ;p
Banyak obrolan menyenangkan, ejekan, bahkan tanya-jawab kami lalui; tetapi beberapa wajah tak juga muncul hingga akhirnya adikku mengajak pulang. Ah, mungkin mereka memang tidak bisa datang seperti tahun-tahun sebelumnya. Padahal aku merasa tahun depan mungkin tak bisa lagi berada di sini. Sudahlah, tidak apa-apa. Aku yakin mereka baik-baik saja. Tuhan menjaga. Amen.
170809
(sebuah catatan utk sabtu sore kmrn)
Yup, setelah 2 th absen, akhirnya aku bisa ikut tugas koor lagi. Acara tahunan di lingkungan yang menyenangkan bagiku karena bisa ikut bernyanyi (tanpa hrs hapal syair dan suara fals). ;p
Suasana hari ini mungkin tak semegah sebelum2nya karena berita duka yg bertubi datang beberapa waktu terakhir. Namun, acara ini tetap harus berjalan. Aku pun bersemangat untuk ikut membantu memeriahkannya (sok penting nih) dan berharap sema lancar. Sedikit ada harapan bertemu teman-teman lama. Tahun lalu mereka datang dan hanya menitipkan salam kepada ibuku. Duh, inginnya bertemu mereka kembali. Bagaimana kabar mereka sekarang, ya?
Pukul 5 sore acara dimulailah. Satu per satu lagu kami nyanyikan. Fiuh, sempat keseleo juga, tetapi untung tidak terlalu tampak. Hehehe, alibi yg bagus. Akhirnya inti acara tiba, dan kami yg datang pun mulai menghapal nama mereka. Beberapa pemuda baru bergabung. Mereka dipanggil satu per satu. Pelan aku membatin, semoga jumlah yg sama akan keluar dari sini. Amen.
Selintas ingatan datang, ingatan akan seorang sahabat di masa lalu. “Kami juga manusia, Cil. Manusia dengan keterbatasan. Jangan menghakimi seakan kami tidak bisa melakukan salah atau membuat keputusan tidak seperti yg kalian harapkan.”
Aku hanya tersenyum saat itu. Ya, aku juga paham. Saat kecil aku merasa keputusan hidup tidak seperti orang lain pastilah bukan hal mudah dan sekali memilih, mereka tidak akan mengubah keputusannya. Namun, saat ini aku sudah tak berpikir seperti itu lagi. Setelah banyak kulihat pemuda-pemuda seperti yg sekarang di depanku masuk dan keluar dengan jumlah lebih sedikit, aku mulai membuka pikiran. Aku teringat seorang pastur menyanyikan lirik lagu dari Seurius, “Rocker jg manusia”, tetapi diganti menjadi, “Romo jg manusia.” Hehehe, kurasa bisa jg diganti bermacam-macam sesuai kondisi.
Aku tersenyum mendengar adikku berbisik, “Wah, kita lihat saja berapa yg akan bertahan sampai tahun depan.” Memang ini bukan lomba dan tak akan ada yg kalah karena gugur di tengah jalan. Semua kembali ke pribadi masing-masing. Bukankah manusia memang diberi kesempatan memilih? Meski kadang keputusan itu tidak sama seperti yg diharapkan masyarakat atau bahkan keluarga mereka sendiri.
Tidak hanya satu-dua orang yg kukenal memutuskan jalan berbeda di tengah perjalanan. Ada yg benar-benar karena ingin berhenti, tetapi ada pula yg berhenti karena keadaan yg tidak diinginkan. Sedih memang, karena ada sebagian yg aku kenal dari awal perjalanan. Namun, jika itu memang harus terjadi, aku hanya bisa berharap semoga itu jalan terbaik bagi mereka.
Yap, acara berakhir juga. Lancar seperti yg kami semua harapkan. Mengucapkan selamat bagi mereka adalah hal yg wajib kulakukan (ya iyalah). Tak lupa yg memperbarui janji juga kuberi ucapan selamat. Mereka termasuk teman lama yg hampir kulupakan. Senangnya mereka masih berada di jalan ini (salah satu keegoisan diri ya?). ;p
Banyak obrolan menyenangkan, ejekan, bahkan tanya-jawab kami lalui; tetapi beberapa wajah tak juga muncul hingga akhirnya adikku mengajak pulang. Ah, mungkin mereka memang tidak bisa datang seperti tahun-tahun sebelumnya. Padahal aku merasa tahun depan mungkin tak bisa lagi berada di sini. Sudahlah, tidak apa-apa. Aku yakin mereka baik-baik saja. Tuhan menjaga. Amen.
170809
(sebuah catatan utk sabtu sore kmrn)
Kamis, 06 Agustus 2009
men from my past
nama-nama dari masa lalu itu bermunculan, satu demi satu.
awalnya tidak terpikirkan olehku, tetapi setelah nama kedua, lalu ketiga, baru aku merasa ada sesuatu.
ya ya, bukannya aku jadi bernostalgia, hanya aneh saja. bayangkan, teman yang sudah 5th lebih hilang kontak, tiba-tiba menyapa. nama terakhir muncul melalui dering telepon siang itu. benar-benar ....
seorang sahabat mengatakan, tandanya aku harus melangkah ke depan. mungkin maksudnya agar aku tidak terkenang-kenang masa yg telah lalu, bahkan zaman purbakala. ;p
namun, ada yg lain di otakku. mengapa aku malah ingin memutar ulang semua di masa lalu yg lama memudar (maklum, kepala pernah kepentok beberapa kali sampe agak amnesia separuh)?
bukan, aku tak bermaksud terkenang, melarat-larat dan menyesali. bukan itu! aku hanya ingin memutar ulang untuk menyegarkan ingatanku akan nama-nama lain yg juga sudah memudar. aku hanya ingin mengingatnya. tentu tidak tepat seperti yg kualami dulu. fiuh, itu sudah cukup basi mungkin.
aku ingin membungkusnya kembali dengan pernik-pernik yg baru kudapat, menggunakan kertas yg lebih unik agar tak lagi terlupa. aku takkan memamerkannya. aku takkan menjualnya, meski kepadamu. aku hanya ingin meletakkannya kembali ke peti harta karunku. mungkin jika kau ingin menggunakannya, aku akan memberikannya. kau tak perlu membayarnya dengan uang atau barang. cukup dengan satu senyum penuh pengertian. hanya itu.
14.12
050809
awalnya tidak terpikirkan olehku, tetapi setelah nama kedua, lalu ketiga, baru aku merasa ada sesuatu.
ya ya, bukannya aku jadi bernostalgia, hanya aneh saja. bayangkan, teman yang sudah 5th lebih hilang kontak, tiba-tiba menyapa. nama terakhir muncul melalui dering telepon siang itu. benar-benar ....
seorang sahabat mengatakan, tandanya aku harus melangkah ke depan. mungkin maksudnya agar aku tidak terkenang-kenang masa yg telah lalu, bahkan zaman purbakala. ;p
namun, ada yg lain di otakku. mengapa aku malah ingin memutar ulang semua di masa lalu yg lama memudar (maklum, kepala pernah kepentok beberapa kali sampe agak amnesia separuh)?
bukan, aku tak bermaksud terkenang, melarat-larat dan menyesali. bukan itu! aku hanya ingin memutar ulang untuk menyegarkan ingatanku akan nama-nama lain yg juga sudah memudar. aku hanya ingin mengingatnya. tentu tidak tepat seperti yg kualami dulu. fiuh, itu sudah cukup basi mungkin.
aku ingin membungkusnya kembali dengan pernik-pernik yg baru kudapat, menggunakan kertas yg lebih unik agar tak lagi terlupa. aku takkan memamerkannya. aku takkan menjualnya, meski kepadamu. aku hanya ingin meletakkannya kembali ke peti harta karunku. mungkin jika kau ingin menggunakannya, aku akan memberikannya. kau tak perlu membayarnya dengan uang atau barang. cukup dengan satu senyum penuh pengertian. hanya itu.
14.12
050809
Sayang ...
Mengapa sulit sekali menuliskan perjalanan kita, Sayang?
Tidak muncul satu kata pun untuk kutorehkan dalam kanvas ini.
Adakah kau tahu alasannya?
Ayolah, beri tahu aku!
Apakah perjalanan itu terlalu panjang?
Sampai-sampai otakku tak mampu memutar ulang langkah kita.
Sayang, adakah kau tahu mengapa?
Jangan hanya diam di sudut jalan!
Mengapa tidak mudah mencari serpihan satu bait saja?
Apakah kau sudah menemukannya?
Aku melihatmu melangkah sedikit jauh.
Mungkinkah kau berhasil merangkainya?
Ah, lelahnya … mencari tanpamu.
Mengapa kau malah tersenyum sambil merentangkan tangan?
Ah, Sayang, ini bukan waktunya berdansa.
Jangan menggodaku seperti itu!
Sayang, maafkan aku ya.
Tiada puisi atau kisah yang kutulis tentangmu.
Mengapa kau tetap tersenyum dan mendekat?
Adakah aku melupakan sesuatu?
Ah, terima kasih sudah mengingatkanku, Sayang.
Senyum dan pelukanmu ini adalah bingkai terindah.
Ternyata cukup kita nyanyikan saja perjalanan ini.
Langkah kan selalu mengikuti.
13.17 280709
Tidak muncul satu kata pun untuk kutorehkan dalam kanvas ini.
Adakah kau tahu alasannya?
Ayolah, beri tahu aku!
Apakah perjalanan itu terlalu panjang?
Sampai-sampai otakku tak mampu memutar ulang langkah kita.
Sayang, adakah kau tahu mengapa?
Jangan hanya diam di sudut jalan!
Mengapa tidak mudah mencari serpihan satu bait saja?
Apakah kau sudah menemukannya?
Aku melihatmu melangkah sedikit jauh.
Mungkinkah kau berhasil merangkainya?
Ah, lelahnya … mencari tanpamu.
Mengapa kau malah tersenyum sambil merentangkan tangan?
Ah, Sayang, ini bukan waktunya berdansa.
Jangan menggodaku seperti itu!
Sayang, maafkan aku ya.
Tiada puisi atau kisah yang kutulis tentangmu.
Mengapa kau tetap tersenyum dan mendekat?
Adakah aku melupakan sesuatu?
Ah, terima kasih sudah mengingatkanku, Sayang.
Senyum dan pelukanmu ini adalah bingkai terindah.
Ternyata cukup kita nyanyikan saja perjalanan ini.
Langkah kan selalu mengikuti.
13.17 280709
Rabu, 29 Juli 2009
catatan lama
Aku suka padamu
Suka sekali…
Aku suka senyummu
Manis sekali…
Aku juga suka tawamu
Kau usil padaku
Kadang jahil padaku
Sering gemes padaku
Ingin marah padaku
Aku hanya tertawa
Kurasa aku sayang padamu
Sayang sekali…
Kurasa kita cocok
Cocok sekali…
Tuk jadi teman baik
01052007
Suka sekali…
Aku suka senyummu
Manis sekali…
Aku juga suka tawamu
Kau usil padaku
Kadang jahil padaku
Sering gemes padaku
Ingin marah padaku
Aku hanya tertawa
Kurasa aku sayang padamu
Sayang sekali…
Kurasa kita cocok
Cocok sekali…
Tuk jadi teman baik
01052007
Kamis, 23 Juli 2009
Rabu, 22 Juli 2009
ulang tahun ke-11 detikcom
Email? Wah, aku baru mengenalnya saat kuliah. Sebelumnya tidak begitu peduli dengan namanya email karena internet dulu hanya untuk mencari info yang berhubungan dengan mata kuliah. Namun, setelah sahabat dan teman-teman bertukar alamat email dan bercerita asyiknya saling berkirim email, aku menjadi penasaran. Belum ada keberanian untuk membuat email sendiri karena masih ‘gaptek’ alias gagap teknologi.
Akhirnya, aku berhasil juga membujuk seorang teman yang sedang tidak kuliah untuk membantuku membuat email dengan fasilitas internet di kampus. Deg-degan rasanya. Ah, seperti mau bertemu orang penting saja. Lucunya, aku tidak mau menggunakan komputernya sehingga temanku itu yang mengoperasikan fasilitas internet sementara aku di sampingnya sambil mengingat tiap langkah yang dilakukannya. Cukup lama juga aku berpikir untuk nama email pertamaku. Mulai dari nama panggilan hingga zodiak, ternyata sudah ada yang memakai. Akhirnya, kupilih nama yang cukup panjang. Setelah jadi, tak lupa aku mencatat nama dan kata sandinya.
Aduh, ternyata perasaan grogiku tidak hilang-hilang. Jadilah email kutengok hanya beberapa kali dalam setahun! Sekarang email itu pun sudah hangus karena dahulu ada syarat email harus dibuka paling tidak sekali dalam enam bulan atau akan hangus.
Sekarang aku sudah memiliki email baru dengan nama cukup pendek dan mudah diingat. Aku pun cukup rutin menengoknya untuk mengecek email masuk, siapa tahu ada kabar dari teman jauh atau info pekerjaan. Ternyata banyak manfaatnya.
Setelah itu, muncul eforia baru tentang blog. Saat itu memang belum begitu popular, tetapi (lagi-lagi) sahabatku menulariku virus mengeblog. Awalnya dia memintaku selalu membaca blognya jika aku sedang ke warnet. Lama kelamaan aku gatal ingin membuat blog juga. Ingin rasanya mem-posting tulisan-tulisan yang selama ini hanya menumpuk di kertas-kertas yang rawan hilang. Pengalaman membuat blog pertama kali sama anehnya dengan saat membuat email dulu. Namun, saat ini aku tidak bersama teman. Aku dipandu sahabatku melalui sms! Hehehe.
Kali pertama dan kedua masih gagal. Usut punya usut, ternyata sahabatku menggunakan tampilan Bahasa Indonesia, sedangkan aku dengan Bahasa Inggris. Ya ampun, pantas saja sempat tidak nyambung. Nah, setelah berhasil membuat blog, aku tidak langsung mem-posting tulisan sehingga sahabatku sempat protes karena tidak menemukan apa pun saat membuka blogku. Hehehe. Aneh memang.
Kemudian, saat sedang bersemangat untuk mem-posting tulisan, aku malah gagal melakukannya. Aku tidak bisa sign in ke blogku sendiri! Oh tidak, mungkinkah aku salah menuliskan alamat blog atau lupa kata sandinya? Yah, akhirnya aku harus menghubungi sahabatku tadi. Ternyata aku salah menulis alamat blognya. Wah, bagaimana mungkin aku bisa lupa! Aduh, ke-gaptek-anku belum berakhir. Setelah berhasil mengetahui alamat yang benar, giliran kata sandi yang salah kumasukkan. Aduh, aduh, malunya.
Setelah beberapa kali bolak-balik ke warnet dan mencoba, akhirnya aku bisa juga masuk ke blogku. Kesempatan yang tidak boleh disia-siakan! Aku langsung mem-posting beberapa tulisan lama. Wah, terlalu bersemangat ya? ;p
Kini aku sudah tidak malas buka email atau blog lagi. Namun, aku memang lebih sering menggunakan fasilitas chatting yang kukenal setelah aku bekerja. Hehehe. Apalagi sekarang, hampir semua pengguna internet sedang terserang virus layanan jejaring sosial. Fasilitas ini menghubungkan kita dengan banyak orang tanpa batasan tempat. Aku pun salah seorang di antaranya. Pertama kali memang masih canggung dan seperti yang sudah-sudah, sering lupa kata sandi.
Akan tetapi, ternyata aku bisa menemukan banyak manfaat positif sehingga tidak segan untuk belajar fasilitas baru yang ditawarkan. Manfaat yang paling terasa tentu saja berhubungan dengan pekerjaanku sebagai pekerja lepas. Komunikasi dengan pemberi lahan kerja bisa lebih lancar melalui chatting. Relasi kerja pun bertambah luas dengan mengikuti jejaring sosial. Ternyata dengan online, aku bisa menambah wawasan dan relasi!
Akhirnya, aku berhasil juga membujuk seorang teman yang sedang tidak kuliah untuk membantuku membuat email dengan fasilitas internet di kampus. Deg-degan rasanya. Ah, seperti mau bertemu orang penting saja. Lucunya, aku tidak mau menggunakan komputernya sehingga temanku itu yang mengoperasikan fasilitas internet sementara aku di sampingnya sambil mengingat tiap langkah yang dilakukannya. Cukup lama juga aku berpikir untuk nama email pertamaku. Mulai dari nama panggilan hingga zodiak, ternyata sudah ada yang memakai. Akhirnya, kupilih nama yang cukup panjang. Setelah jadi, tak lupa aku mencatat nama dan kata sandinya.
Aduh, ternyata perasaan grogiku tidak hilang-hilang. Jadilah email kutengok hanya beberapa kali dalam setahun! Sekarang email itu pun sudah hangus karena dahulu ada syarat email harus dibuka paling tidak sekali dalam enam bulan atau akan hangus.
Sekarang aku sudah memiliki email baru dengan nama cukup pendek dan mudah diingat. Aku pun cukup rutin menengoknya untuk mengecek email masuk, siapa tahu ada kabar dari teman jauh atau info pekerjaan. Ternyata banyak manfaatnya.
Setelah itu, muncul eforia baru tentang blog. Saat itu memang belum begitu popular, tetapi (lagi-lagi) sahabatku menulariku virus mengeblog. Awalnya dia memintaku selalu membaca blognya jika aku sedang ke warnet. Lama kelamaan aku gatal ingin membuat blog juga. Ingin rasanya mem-posting tulisan-tulisan yang selama ini hanya menumpuk di kertas-kertas yang rawan hilang. Pengalaman membuat blog pertama kali sama anehnya dengan saat membuat email dulu. Namun, saat ini aku tidak bersama teman. Aku dipandu sahabatku melalui sms! Hehehe.
Kali pertama dan kedua masih gagal. Usut punya usut, ternyata sahabatku menggunakan tampilan Bahasa Indonesia, sedangkan aku dengan Bahasa Inggris. Ya ampun, pantas saja sempat tidak nyambung. Nah, setelah berhasil membuat blog, aku tidak langsung mem-posting tulisan sehingga sahabatku sempat protes karena tidak menemukan apa pun saat membuka blogku. Hehehe. Aneh memang.
Kemudian, saat sedang bersemangat untuk mem-posting tulisan, aku malah gagal melakukannya. Aku tidak bisa sign in ke blogku sendiri! Oh tidak, mungkinkah aku salah menuliskan alamat blog atau lupa kata sandinya? Yah, akhirnya aku harus menghubungi sahabatku tadi. Ternyata aku salah menulis alamat blognya. Wah, bagaimana mungkin aku bisa lupa! Aduh, ke-gaptek-anku belum berakhir. Setelah berhasil mengetahui alamat yang benar, giliran kata sandi yang salah kumasukkan. Aduh, aduh, malunya.
Setelah beberapa kali bolak-balik ke warnet dan mencoba, akhirnya aku bisa juga masuk ke blogku. Kesempatan yang tidak boleh disia-siakan! Aku langsung mem-posting beberapa tulisan lama. Wah, terlalu bersemangat ya? ;p
Kini aku sudah tidak malas buka email atau blog lagi. Namun, aku memang lebih sering menggunakan fasilitas chatting yang kukenal setelah aku bekerja. Hehehe. Apalagi sekarang, hampir semua pengguna internet sedang terserang virus layanan jejaring sosial. Fasilitas ini menghubungkan kita dengan banyak orang tanpa batasan tempat. Aku pun salah seorang di antaranya. Pertama kali memang masih canggung dan seperti yang sudah-sudah, sering lupa kata sandi.
Akan tetapi, ternyata aku bisa menemukan banyak manfaat positif sehingga tidak segan untuk belajar fasilitas baru yang ditawarkan. Manfaat yang paling terasa tentu saja berhubungan dengan pekerjaanku sebagai pekerja lepas. Komunikasi dengan pemberi lahan kerja bisa lebih lancar melalui chatting. Relasi kerja pun bertambah luas dengan mengikuti jejaring sosial. Ternyata dengan online, aku bisa menambah wawasan dan relasi!
Selasa, 07 April 2009
curhat pagi buta
Aku tak tahu apa yang kurasakan. Penuh, sesak, terburu-buru. Oh, jangan lupakan perasaan tidak nyaman. Baiklah, ada juga rasa malas.
Apakah aku benar-malas menggunakan otak seperti yang mereka bilang? Yang lebih parah, apakah aku memang akan diam saja jika diminta melakukan hal yang tidak kusukai? Salah! Hal yang sudah kupilih tidak akan kujalani. Ah, benarkah tidak ada pilihan atau aku memang tak diberi pilihan lain? Apakah aku memang tak bisa memilih jalan itu tanpa mengambil pilihan yang mereka beri? Inikah saatnya aku memilih kembali? Untuk tetap tinggal dan menjalani semuanya, atau pergi dan memulai semua dari awal?
Mengapa ada ketakutan jauh di dalam sana? Aku takkan mampu bertahan sebelum mulai lagi. Aku hanya akan bertahan jika tetap tinggal. Tinggal dan menjalani jembatan yang mereka bangun, sambil berharap sesak ini akan berkurang lalu menghilang.
Ya ya, aku sedang bimbang dan bahkan waktu tak mau menemaniku. Aku harus tetap berjalan, tanpa bisa berhenti sejenak. Karena jeda … berarti aku memilih untuk berbalik ke arah yang berbeda. Arah baru yang belum pernah kujalani. Arah yang belum memiliki jembatan untuk menyeberanginya.
Sanggupkah aku mulai mengambil jeda, sejenak bernapas lalu melihat sekitar? Akankah aku mampu menemukan kayu-kayu tangguh untuk kujalin menjadi jembatan? Dapatkah aku menyemangati diri sendiri yang selama ini terlena dalam topangan orang lain?
Aku hanya harus mengatakan, aku bisa dan mau melakukannya! Bukankah ini memang cita-citaku sejak lama? Bukankah ini memang arah menuju tempat yang memang kuinginkan dan kuyakini memang tempatku? Mengapa pula aku masih di sini? Termangu dan terpaku silau cahaya tempat lain? Seharusnya aku segera memulainya, dari awal.
Aku sudah memutuskannya sekarang. Pertanyaannya adalah apakah aku akan berani untuk segera melakukannya.
Lamunan di tengah riak binatang malam
02:45
080409
Apakah aku benar-malas menggunakan otak seperti yang mereka bilang? Yang lebih parah, apakah aku memang akan diam saja jika diminta melakukan hal yang tidak kusukai? Salah! Hal yang sudah kupilih tidak akan kujalani. Ah, benarkah tidak ada pilihan atau aku memang tak diberi pilihan lain? Apakah aku memang tak bisa memilih jalan itu tanpa mengambil pilihan yang mereka beri? Inikah saatnya aku memilih kembali? Untuk tetap tinggal dan menjalani semuanya, atau pergi dan memulai semua dari awal?
Mengapa ada ketakutan jauh di dalam sana? Aku takkan mampu bertahan sebelum mulai lagi. Aku hanya akan bertahan jika tetap tinggal. Tinggal dan menjalani jembatan yang mereka bangun, sambil berharap sesak ini akan berkurang lalu menghilang.
Ya ya, aku sedang bimbang dan bahkan waktu tak mau menemaniku. Aku harus tetap berjalan, tanpa bisa berhenti sejenak. Karena jeda … berarti aku memilih untuk berbalik ke arah yang berbeda. Arah baru yang belum pernah kujalani. Arah yang belum memiliki jembatan untuk menyeberanginya.
Sanggupkah aku mulai mengambil jeda, sejenak bernapas lalu melihat sekitar? Akankah aku mampu menemukan kayu-kayu tangguh untuk kujalin menjadi jembatan? Dapatkah aku menyemangati diri sendiri yang selama ini terlena dalam topangan orang lain?
Aku hanya harus mengatakan, aku bisa dan mau melakukannya! Bukankah ini memang cita-citaku sejak lama? Bukankah ini memang arah menuju tempat yang memang kuinginkan dan kuyakini memang tempatku? Mengapa pula aku masih di sini? Termangu dan terpaku silau cahaya tempat lain? Seharusnya aku segera memulainya, dari awal.
Aku sudah memutuskannya sekarang. Pertanyaannya adalah apakah aku akan berani untuk segera melakukannya.
Lamunan di tengah riak binatang malam
02:45
080409
DREAMING THE DREAM
Wishing you where here, my friend
Hoping you have the same dream
Not about victory or fame
Just a bunch of land
There we can rest our wings
Where our ways are not a secret
We will run without regret
Taking change to free all feelings
Never stop to think the future
Not far enough from our sight
And more than words we can mutter
Believing we can catch under the light
But you’re not here, my friend
Only the presence of your odour
Remembering the time we became friend
That’s to me is an honour
For you, May
02:50
050409
Hoping you have the same dream
Not about victory or fame
Just a bunch of land
There we can rest our wings
Where our ways are not a secret
We will run without regret
Taking change to free all feelings
Never stop to think the future
Not far enough from our sight
And more than words we can mutter
Believing we can catch under the light
But you’re not here, my friend
Only the presence of your odour
Remembering the time we became friend
That’s to me is an honour
For you, May
02:50
050409
Restless
210309
Restless …
Can’t think, don’t know what I feel
Can’t take a breath without burden
Where should go then?
Too restless
Just need a rest
Wanna lay down for awhile
Somewhere …
Why am I restless?
Too much voices in my head
Can’t make them go
Just wanna disappear
Restless …
My soul can’t feel peace
My heart just feel empty
My mind is going blind
Restlessness …
220309
06.00
Restless …
Can’t think, don’t know what I feel
Can’t take a breath without burden
Where should go then?
Too restless
Just need a rest
Wanna lay down for awhile
Somewhere …
Why am I restless?
Too much voices in my head
Can’t make them go
Just wanna disappear
Restless …
My soul can’t feel peace
My heart just feel empty
My mind is going blind
Restlessness …
220309
06.00
Kamis, 26 Februari 2009
Kembali Menulis
Aku memang bukan pembaca sejati, apalagi pembaca buku-buku bagus. Aduh, jangan tanya padaku nama-nama penulis terkenal, mau dari Indonesia atau mancanegara. Hands up! Mending minta aku lari keliling Mandala Krida 10 kali deh. Apalagi kalau diajak diskusi tentang aliran atau konsep sastra. Kepalaku langsung pening. Maafkan daku, ya! ;p
Ah, aku juga bukan penyair. Aku cuma suka nulis apa yg kurasakan saja. Kadang memang aku bisa nulis berparagraf kalimat bermakna. Namun, aku lebih sering hanya mampu menulis satu baris kata yg mungkin tak ada maknanya. Ya ya, mana mungkin aku berani menyebut diri sbg penyair atau penulis. Duh, jauh banget deh. Aku hanya bisa bilang kalau mulai suka lagi menuliskan apa yg ada di kepalaku.
Oleh karena itu, izinkan aku setidaknya mengisi blog-ku dengan apa pun yg sedang terlintas di kepalaku. Jika kalian suka, singgahlah sejenak. Namun, jika tidak, lanjutkanlah perjalanan tanpa merasa terpaksa. Baiklah, aku akan mulai lagi mengisi blog ini.
22.10
24Feb09
Ah, aku juga bukan penyair. Aku cuma suka nulis apa yg kurasakan saja. Kadang memang aku bisa nulis berparagraf kalimat bermakna. Namun, aku lebih sering hanya mampu menulis satu baris kata yg mungkin tak ada maknanya. Ya ya, mana mungkin aku berani menyebut diri sbg penyair atau penulis. Duh, jauh banget deh. Aku hanya bisa bilang kalau mulai suka lagi menuliskan apa yg ada di kepalaku.
Oleh karena itu, izinkan aku setidaknya mengisi blog-ku dengan apa pun yg sedang terlintas di kepalaku. Jika kalian suka, singgahlah sejenak. Namun, jika tidak, lanjutkanlah perjalanan tanpa merasa terpaksa. Baiklah, aku akan mulai lagi mengisi blog ini.
22.10
24Feb09
Selasa, 16 Desember 2008
Mimpiku ...
Mimpiku di awal tahun ini masih sama dengan tahun lalu. Aku ingin menyelesaikan sebuah novel atau membuat sebuah antologi puisi. Yap, sudah cukup lama keduanya tak selesai. Apalagi, beberapa bulan lalu aku mendapat tantangan untuk berkolaborasi membuat sebuah novel. Duh, benar-benar membuatku ngiler. Aku terpacu untuk mewujudkannya. Temanku itu juga menyemangatiku, entah bagaimana. Namun, sampai sekarang aku baru bisa menghasilkan 9 halaman. Itu pun hasil revisi ide cerita yang ngendon cukup lama.
Baiklah, aku akhirnya putar haluan. Hehehe. Antologi puisi siap diluncurkan! Namun ... lagi-lagi terbentur kesibukan yang lain hingga aku belum sempat melengkapi rangkaian puisi itu. Yah, padahal aku ingin sudah bisa membacanya Natal nanti. Hiks hiks hiks.
Akhirnya lagi, aku memutuskan untuk merevisi dan melengkapi antologi yang menjadi pengingatku akan seorang sahabat. Antologi itu seperti sebuah cerita awal persahabatan kami, saat kehilangan dia, sampai penerimaanku akan kepergiannya. Aku memang tak berniat mempublikasikannya. Siapalah aku. Aku hanya ingin menikmatinya sebagai sebuah antologi personalku. Bukankah itu lebih dari cukup?
Selasa, 25 November 2008
Hai
Aku sudah menyapanya siang ini.
"Hai," hanya itu.
Dia pun balik menanyakan kabarku.
Baiklah, kami saling menyapa.
Namun, mengapa terasa pedih?
Aneh, bukan?
Harusnya aku senang, lega, atau bahagia.
Mengapa malah ingin berbalik dan menghindar?
Percakapan pendek itu memang terjadi.
Namun, tiada kehangatan terasa, malah gamang.
Sudahlah, aku sudah menyapanya.
Itu sudah cukup untuk hari ini.
Sekarang aku ingin pulang, kembali ke rumah.
17:40
25112008
"Hai," hanya itu.
Dia pun balik menanyakan kabarku.
Baiklah, kami saling menyapa.
Namun, mengapa terasa pedih?
Aneh, bukan?
Harusnya aku senang, lega, atau bahagia.
Mengapa malah ingin berbalik dan menghindar?
Percakapan pendek itu memang terjadi.
Namun, tiada kehangatan terasa, malah gamang.
Sudahlah, aku sudah menyapanya.
Itu sudah cukup untuk hari ini.
Sekarang aku ingin pulang, kembali ke rumah.
17:40
25112008
Selasa, 18 November 2008
Inginku
Aku ingin pulang, sekarang
Entah kenapa
Tiba-tiba saja aku ingin pulang
Tanpa alasan
Aku benar-benar ingin pulang
Adakah yang bisa membawaku pergi?
Pergi dari sini secepatnya
Pulang ke tempatku merasa nyaman
Aku hanya ingin pulang
Pulang ke peraduan senyumnya
Memeluk hangat jiwanya
Aku ingin cepat pulang
12:40
19112008
Entah kenapa
Tiba-tiba saja aku ingin pulang
Tanpa alasan
Aku benar-benar ingin pulang
Adakah yang bisa membawaku pergi?
Pergi dari sini secepatnya
Pulang ke tempatku merasa nyaman
Aku hanya ingin pulang
Pulang ke peraduan senyumnya
Memeluk hangat jiwanya
Aku ingin cepat pulang
12:40
19112008
Meletup Lagi ...
Aku meletup lagi, tadi siang.
Sungguh tidak enak, sungguh tidak nyaman.
Aku juga tidak tahu bagaimana awalnya.
Aku hanya ingat rasa marah itu.
Ya, masih ingat obrolan yg biasa saja.
Ada jeda, cukup lama kurasa.
Setelah itu, ada nada merajuk.
Ya, aku tak salah mengenalinya.
Oke, baiklah jika ingin merajuk.
Silakan saja, tak masalah.
Namun, tunggu dulu.
Mengapa ada semburan panas di dalam sana?
Aku sudah ingin mengabaikannya.
Aku mulai tak acuh, tapi dia mulai meradang.
Tanpa kusadari, aku pun meracau.
Tanpa terkendali mungkin.
Ada luka yg tak kusadari membuka.
Namun, mengapa aku malah melukainya?
Sadarkah aku akan apa yang terjadi?
Aku meletup ... lagi.
Tidak, mengapa harus sekarang?
Tunggu, bukankah aku hanya meracau?
Dia sudah lama terluka, bukan karenaku.
Itu yang kutahu.
Namun, aku terbakar sendiri di sini.
Merutuki rajukan yang kutahu bisa kuabaikan.
Aku melakukannya tanpa kendali.
Ya ya, aku meletup kembali.
18:50
18112008
Sungguh tidak enak, sungguh tidak nyaman.
Aku juga tidak tahu bagaimana awalnya.
Aku hanya ingat rasa marah itu.
Ya, masih ingat obrolan yg biasa saja.
Ada jeda, cukup lama kurasa.
Setelah itu, ada nada merajuk.
Ya, aku tak salah mengenalinya.
Oke, baiklah jika ingin merajuk.
Silakan saja, tak masalah.
Namun, tunggu dulu.
Mengapa ada semburan panas di dalam sana?
Aku sudah ingin mengabaikannya.
Aku mulai tak acuh, tapi dia mulai meradang.
Tanpa kusadari, aku pun meracau.
Tanpa terkendali mungkin.
Ada luka yg tak kusadari membuka.
Namun, mengapa aku malah melukainya?
Sadarkah aku akan apa yang terjadi?
Aku meletup ... lagi.
Tidak, mengapa harus sekarang?
Tunggu, bukankah aku hanya meracau?
Dia sudah lama terluka, bukan karenaku.
Itu yang kutahu.
Namun, aku terbakar sendiri di sini.
Merutuki rajukan yang kutahu bisa kuabaikan.
Aku melakukannya tanpa kendali.
Ya ya, aku meletup kembali.
18:50
18112008
Rabu, 12 November 2008
Ga Lagi Deh ...
Wah, pengalaman beberapa hari ga ketawa di kantor bikin kapok deh.
Ga mau lagi menerima tantangan yg ga jelas.
Apalagi, tantangan utk tidak ketawa!!!
Padahal seorang teman jelas mengatakan, tertawa adalah nyawaku.
Betul, itu! Aku sakit kepala tiap malam karena seharian ga ketawa.
Aku juga tidak mengerti kok bisa begitu.
Ah, untung Jumat malem bisa ngakak. Lega deh ...
Dah ah, pokoke aku terima aja keadaanku yg orang bilang 'edan' karena suka ketawa sendiri.
Uah, itulah aku. Ada sahabat yg bilang agar aku jangan berubah. Ah, jadi GR.
Sudahlah.
17:45
12102008
Ga mau lagi menerima tantangan yg ga jelas.
Apalagi, tantangan utk tidak ketawa!!!
Padahal seorang teman jelas mengatakan, tertawa adalah nyawaku.
Betul, itu! Aku sakit kepala tiap malam karena seharian ga ketawa.
Aku juga tidak mengerti kok bisa begitu.
Ah, untung Jumat malem bisa ngakak. Lega deh ...
Dah ah, pokoke aku terima aja keadaanku yg orang bilang 'edan' karena suka ketawa sendiri.
Uah, itulah aku. Ada sahabat yg bilang agar aku jangan berubah. Ah, jadi GR.
Sudahlah.
17:45
12102008
Kamis, 30 Oktober 2008
Aneh ya ...
Orang Indonesia (kalo ga ingin sukuisme dg bilang org Jawa) memang aneh.
Sesuatu yg sudah jelas malah diminta untuk lebih diperjelas.
Sementara itu, sesuatu yang sangat tidak jelas malah didiamkan saja.
Apa benar tidak perlu kejelasan? Hah, aku mulai bosan dengan itu.
09:45
31102008
Sesuatu yg sudah jelas malah diminta untuk lebih diperjelas.
Sementara itu, sesuatu yang sangat tidak jelas malah didiamkan saja.
Apa benar tidak perlu kejelasan? Hah, aku mulai bosan dengan itu.
09:45
31102008
Langganan:
Postingan (Atom)