Terpaksa kumatikan komputer meski mashi ingin OL atau membaca kumpulan kisah tulisan seorang sahabat. Mengantuk? Tidak, mataku masih cukup lebar. Batere Hpku drop sehingga harus segera diisi ulang karena aku sedang asik mendengarkan radio. Ada pemutaran lagu-lagu manca. Usulan temanku juga nih. Hufh, mengapa charger harus jauh dari komputer, sih! ;(
Ya sudah, akhirnya kupindahkan tempat bersandar di sebuah tikar yang berdekatan dengan charger dan stabilisator. ;p
Dengan loudspeaker aku mendengar lagu bernuansa pop itu. ah, bukan lagu lama, tetapi membuat ingatan melayang cukup lama. Aduh aduh, jadi melow. :D
Kulirik HP yang tak jua menampilkan tanda sms masuk. Ah, mungkin nun jauh di sana yang tersayang sedang sibuk bercengkerama dengan saudara dan kerabat. Dia mungkin terlalu sibuk bercerita hingga tak sempat sms sekadar untuk mengucapkan selamat malam. Hahaha, mengapa aku merasa terlalu menuntut begini?
“Mengapa tidak kau saja yang mengirim sms kepadanya? Bisik hatiku. Tidak, jawabku. Aku mo hemat pulsa, males ngetik sms … dan banyak alibi di otakku. Dasar!!! ;p
Aku malah teringat kejadian beberapa hari lalu sebelum dia berangkat berlibur. Seorang sahabat yang sedang berkunjung tertawa keras. Sahabatku itu mengatakan betapa manjanya dia sampai-sampai aku harus mengantarnya ke stasiun. Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Spontan aku menyahut jika aku yang ingin mengantarnya. Ya, sore itu aku tergesa bersiap untuk ke rumahnya. Padahal aku sadar sahabatku masih ingin tinggal. Ah, aku tak bisa menjelaskan betapa ingin aku berada di 2 tempat dalam waktu yang sama.
Ingin sekali aku menjelaskan panjang lebar alasanku kepada sahabatku itu, tetapi aku benar-benar sedang tidak punya energi. Sahabatku itu juga bilang tak mengerti hal-hal seperti itu. Aduh, aku tak tahu harus bilang apa. Dalam sms sesudahnya, sahabatku bilang mungkin itu karena hubunganku yang sudah cukup lama dan dia tak cukup beruntung memiliki hubungan seperti itu. (Kira-kira seperti itu smsnya, jika tidak salah ingat.) Aku hanya menjawab ini pertama kali kami terpisah jauh dan cukup lama. Entah sahabatku itu mengerti atau tidak.
Bila ingat sahabatku yang menertawakan kami, kadang aku masih sedih. Ah, untuk apa coba? Aku hanya akan rugi sendiri, bukan? Aku sendiri tidak mengerti. Sore itu aku hanya ingin mengantarnya pergi. Berpamitan. Banyak kekhawatiran di otakku. Aduh, ini sudah pasti karena bermacam berita di tivi dan koran. Bermacam kecelakaan pesawatlah, kapallah, kereta apilah …. Duh, trauma deh jadinya. Aku tahu tak boleh terlalu khawatir begini karena akibatnya malah tidak baik. Mau bagaimana lagi? Aku memang mudah khawatir. Jadinya ya beginilah.
Aku hanya ingin bertemu sebelum dia berangkat, apalagi beberapa hari terakhir aku malah jengkel kepadanya. Hahaha, dasar aku! Apa perempuan lain juga seperti ini ya? (Pastinya sahabatku itu akan bilang tidak dengan keras. Hahaha.) Aku hanya tak ingin kehilangan satu momen. Berpamitan.
Lucu juga jika ingat sehari sebelumnya (saat masih jengkel) aku mati-matian bilang tak ingin mengantarnya sampai stasiun. Pasti akan terasa berat. I just knew. Namun, di saat terakhir aku ingin sekali ikut. Mungkin aku hanya ingin meyakinkan diri sendiri akan baik-baik saja.
Yap. Momen berpamitan yang berat. Ayolah, pastinya tidak seperti drama melodramatis di tivi. ;p lalu dia pun pergi. Aku menatap laju kereta api dan meyakinkan diri ada tugas yang harus kuselesaikan hingga tak bisa berlibur bersamanya. Just a hint. Owh, aku baru saja mengirimkan sms singkat untuknya. Selamat malam. :)
120809-130809
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Agustus 2009
Selasa, 07 April 2009
curhat pagi buta
Aku tak tahu apa yang kurasakan. Penuh, sesak, terburu-buru. Oh, jangan lupakan perasaan tidak nyaman. Baiklah, ada juga rasa malas.
Apakah aku benar-malas menggunakan otak seperti yang mereka bilang? Yang lebih parah, apakah aku memang akan diam saja jika diminta melakukan hal yang tidak kusukai? Salah! Hal yang sudah kupilih tidak akan kujalani. Ah, benarkah tidak ada pilihan atau aku memang tak diberi pilihan lain? Apakah aku memang tak bisa memilih jalan itu tanpa mengambil pilihan yang mereka beri? Inikah saatnya aku memilih kembali? Untuk tetap tinggal dan menjalani semuanya, atau pergi dan memulai semua dari awal?
Mengapa ada ketakutan jauh di dalam sana? Aku takkan mampu bertahan sebelum mulai lagi. Aku hanya akan bertahan jika tetap tinggal. Tinggal dan menjalani jembatan yang mereka bangun, sambil berharap sesak ini akan berkurang lalu menghilang.
Ya ya, aku sedang bimbang dan bahkan waktu tak mau menemaniku. Aku harus tetap berjalan, tanpa bisa berhenti sejenak. Karena jeda … berarti aku memilih untuk berbalik ke arah yang berbeda. Arah baru yang belum pernah kujalani. Arah yang belum memiliki jembatan untuk menyeberanginya.
Sanggupkah aku mulai mengambil jeda, sejenak bernapas lalu melihat sekitar? Akankah aku mampu menemukan kayu-kayu tangguh untuk kujalin menjadi jembatan? Dapatkah aku menyemangati diri sendiri yang selama ini terlena dalam topangan orang lain?
Aku hanya harus mengatakan, aku bisa dan mau melakukannya! Bukankah ini memang cita-citaku sejak lama? Bukankah ini memang arah menuju tempat yang memang kuinginkan dan kuyakini memang tempatku? Mengapa pula aku masih di sini? Termangu dan terpaku silau cahaya tempat lain? Seharusnya aku segera memulainya, dari awal.
Aku sudah memutuskannya sekarang. Pertanyaannya adalah apakah aku akan berani untuk segera melakukannya.
Lamunan di tengah riak binatang malam
02:45
080409
Apakah aku benar-malas menggunakan otak seperti yang mereka bilang? Yang lebih parah, apakah aku memang akan diam saja jika diminta melakukan hal yang tidak kusukai? Salah! Hal yang sudah kupilih tidak akan kujalani. Ah, benarkah tidak ada pilihan atau aku memang tak diberi pilihan lain? Apakah aku memang tak bisa memilih jalan itu tanpa mengambil pilihan yang mereka beri? Inikah saatnya aku memilih kembali? Untuk tetap tinggal dan menjalani semuanya, atau pergi dan memulai semua dari awal?
Mengapa ada ketakutan jauh di dalam sana? Aku takkan mampu bertahan sebelum mulai lagi. Aku hanya akan bertahan jika tetap tinggal. Tinggal dan menjalani jembatan yang mereka bangun, sambil berharap sesak ini akan berkurang lalu menghilang.
Ya ya, aku sedang bimbang dan bahkan waktu tak mau menemaniku. Aku harus tetap berjalan, tanpa bisa berhenti sejenak. Karena jeda … berarti aku memilih untuk berbalik ke arah yang berbeda. Arah baru yang belum pernah kujalani. Arah yang belum memiliki jembatan untuk menyeberanginya.
Sanggupkah aku mulai mengambil jeda, sejenak bernapas lalu melihat sekitar? Akankah aku mampu menemukan kayu-kayu tangguh untuk kujalin menjadi jembatan? Dapatkah aku menyemangati diri sendiri yang selama ini terlena dalam topangan orang lain?
Aku hanya harus mengatakan, aku bisa dan mau melakukannya! Bukankah ini memang cita-citaku sejak lama? Bukankah ini memang arah menuju tempat yang memang kuinginkan dan kuyakini memang tempatku? Mengapa pula aku masih di sini? Termangu dan terpaku silau cahaya tempat lain? Seharusnya aku segera memulainya, dari awal.
Aku sudah memutuskannya sekarang. Pertanyaannya adalah apakah aku akan berani untuk segera melakukannya.
Lamunan di tengah riak binatang malam
02:45
080409
Rabu, 20 Agustus 2008
fiuh
Fiuh...
Aku usap dahiku pelan.
Kelar juga tugasku hari ini.
Meski lumayan ngantuk karena memelototi angka, aku cukup senang.
Ini tugasku, aku juga bisa belajar sesuatu.
Fiuh...
Kembali kuusap dahiku yang sedikit berkeringat.
Aku ingin pulang.
Bukan... bukan pulang ke tempat tinggalku.
Pulang ke dalam kehangatan yang membuatku tenang.
Kehangatan yang akhir-akhir ini sering memanggilku...
Memanggilku untuk pulang.
16:30
21082008
Aku usap dahiku pelan.
Kelar juga tugasku hari ini.
Meski lumayan ngantuk karena memelototi angka, aku cukup senang.
Ini tugasku, aku juga bisa belajar sesuatu.
Fiuh...
Kembali kuusap dahiku yang sedikit berkeringat.
Aku ingin pulang.
Bukan... bukan pulang ke tempat tinggalku.
Pulang ke dalam kehangatan yang membuatku tenang.
Kehangatan yang akhir-akhir ini sering memanggilku...
Memanggilku untuk pulang.
16:30
21082008
Kamis, 14 Agustus 2008
kejar tayang
uahhhhhhhhhhhhhh
hr ni lagi kejar tayang. fiuh. deg2n, apakah bs kelar sore ini.
semoga bs. eh, hrs bs!!!
duh, jan... sebenere dah bs kelar kmrn2, tapi kok ya 'keseselan' pekerjaan yg lain.
sapa yg salah neh?!
huah. sudahlah. yg penting, aku selesaikan bagian pekerjaanku.
iya to?
13:00
15082008
hr ni lagi kejar tayang. fiuh. deg2n, apakah bs kelar sore ini.
semoga bs. eh, hrs bs!!!
duh, jan... sebenere dah bs kelar kmrn2, tapi kok ya 'keseselan' pekerjaan yg lain.
sapa yg salah neh?!
huah. sudahlah. yg penting, aku selesaikan bagian pekerjaanku.
iya to?
13:00
15082008
ngantuk...
aku ngantuk...
untung sempat merem bentar. hueh, lumayan.
hari ini kejar tayang (pinjam istilah sinetron), tapi masih menunggu giliran.
uhf, tidak sopan!
ada rasa yg numpang lewat di hatiku.
bagaimana menyikapinya, ya? perasaan yg sudah lama tidak singgah.
ah, sudahlah...
aku minum kopi cokelat saja, hirup aromanya yg menenangkan.
semoga bisa kembali menumbuhkan energiku.
semangat!!!
14:20
14082008
untung sempat merem bentar. hueh, lumayan.
hari ini kejar tayang (pinjam istilah sinetron), tapi masih menunggu giliran.
uhf, tidak sopan!
ada rasa yg numpang lewat di hatiku.
bagaimana menyikapinya, ya? perasaan yg sudah lama tidak singgah.
ah, sudahlah...
aku minum kopi cokelat saja, hirup aromanya yg menenangkan.
semoga bisa kembali menumbuhkan energiku.
semangat!!!
14:20
14082008
Selasa, 12 Agustus 2008
sore ini
iihhh...
rasanya jengkel sampai ubun2.
berulangkali terjadi dan masih juga aku mudah terpengaruh.
apa karena unsur 'udara'ku, ya?
entahlah, aku hanya tahu aku nyesek.
uh, bagaimana cara meredamnya?!
mungkin hanya dengan makan dan makan. dasar pelahap!
16:30
13082008
rasanya jengkel sampai ubun2.
berulangkali terjadi dan masih juga aku mudah terpengaruh.
apa karena unsur 'udara'ku, ya?
entahlah, aku hanya tahu aku nyesek.
uh, bagaimana cara meredamnya?!
mungkin hanya dengan makan dan makan. dasar pelahap!
16:30
13082008
siang ini
waktu istirahat...
enaknya tidur sesaat setelah makan
hmmm, knikmatan yg baru bisa kurasakan beberapa minggu ini
kata seorang teman, pekerjaan memang takkan ada habisnya
kita harus tahu kapan harus istirahat, kapan harus bekerja
fiuh, tapi aku bekerja saat istirahat juga
mungkin terlalu menikmati apa yg kukerjakan
sampai sering tidak bisa membedakan apakah aku sedang bekerja atau beristirahat
huahmmm...
enaknya tidur sesaat setelah makan
hmmm, knikmatan yg baru bisa kurasakan beberapa minggu ini
kata seorang teman, pekerjaan memang takkan ada habisnya
kita harus tahu kapan harus istirahat, kapan harus bekerja
fiuh, tapi aku bekerja saat istirahat juga
mungkin terlalu menikmati apa yg kukerjakan
sampai sering tidak bisa membedakan apakah aku sedang bekerja atau beristirahat
huahmmm...
Sabtu, 02 Februari 2008
sunday morning,03022008
lelah...
buset, kelelahan itu datang juga.
lalu apa yang harus dilakukan? padahal aku tak boleh berhenti.
bukankah akhirnya aku harus istirahat barang sejenak?
istirahat, bukan berhenti.
mungkin aku hanya harus menoleh sesekali, agar tetap ingat...
aku tak sendiri.
buset, kelelahan itu datang juga.
lalu apa yang harus dilakukan? padahal aku tak boleh berhenti.
bukankah akhirnya aku harus istirahat barang sejenak?
istirahat, bukan berhenti.
mungkin aku hanya harus menoleh sesekali, agar tetap ingat...
aku tak sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)